Atasi Sampah Organik, SMK Kesahatan Bali Khesna Medika Kedatangan SMKN 1 Mengwi Gelar Pengimbasan Pembuatan Ekoenzim

Badung, 14 September 2026 — Sebagai langkah konkret menekan akumulasi limbah organik yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), SMK Kesehatan Bali Khersna Medika kedatangan SMKN 1 Mengwi untuk menyelenggarakan kegiatan pengimbasan pengelolaan sampah berfokus pada inovasi pembuatan ekoenzim (eco-enzyme). Pelatihan dan transfer pengetahuan ini diikuti oleh perwakilan guru serta siswa.

Melalui program ini, SMKN 1 Mengwi membagikan formula dan teknik pemanfaatan sampah dapur basah, seperti sisa kulit buah dan potongan sayuran segar agar tidak terbuang sia-sia dan menimbulkan bau tak sedap di lingkungan sekolah.

Sistematis dan Berdaya Guna Tinggi

Dalam sesi demonstrasi, tim penggerak lingkungan SMKN 1 Mengwi memperagakan rasio baku pembuatan ekoenzim yang mudah diterapkan di skala sekolah maupun rumah tangga:

  • Formula Dasar (1 : 3 : 10): Menggabungkan 1 bagian gula merah/molase, 3 bagian sampah organik dapur (kulit jeruk, nanas, apel, atau sayuran), dan 10 bagian air bersih.
  • Masa Fermentasi: Campuran disimpan rapat dalam wadah plastik selama 3 bulan untuk menjalani proses fermentasi anaerobik secara alami.
  • Hasil Akhir: Menghasilkan cairan kaya enzim yang berfungsi sebagai pembersih alami, disinfektan ramah lingkungan, pemurni udara, hingga pupuk cair organik untuk tanaman sekolah.

Membangun Budaya Ekologis Berkelanjutan

Kegiatan pengimbasan ini tidak hanya mengajarkan teknis pengolahan, tetapi juga mendorong sekolah mitra untuk membangun sistem pemilahan sampah organik sejak dari kantin dan ruang kelas. Dengan mengolah limbah organik secara mandiri menjadi produk bermanfaat, sekolah dapat memangkas rasio buangan sampah harian hingga lebih dari 60%.

Inisiatif pengimbasan pemanfaatan ekoenzim ini diharapkan mampu memperluas jejaring sekolah hijau di Bali, sekaligus menanamkan kesadaran ekologis yang kuat pada generasi muda sejak dini.